Jakarta — Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita mulai menjadi perbincangan di berbagai kota setelah diputar melalui rangkaian kegiatan nonton bareng dan diskusi yang digelar oleh sejumlah kelompok aktivis, komunitas mahasiswa, organisasi kepemudaan hingga lembaga swadaya masyarakat. Pemutaran film tersebut tidak hanya berlangsung di ruang-ruang diskusi kampus, tetapi juga menyebar ke komunitas akar rumput dan forum-forum sosial di sejumlah daerah.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana media visual kini menjadi salah satu instrumen paling efektif dalam membangun opini publik. Melalui pendekatan dokumenter, Pesta Babi mencoba mengangkat berbagai kritik terhadap kondisi sosial, ekonomi, hingga relasi kekuasaan yang dianggap tidak berpihak kepada masyarakat kecil. Narasi yang dibangun dalam film dikemas emosional, simbolik, dan mudah dipahami oleh generasi muda.
Di sejumlah lokasi pemutaran, kegiatan diskusi yang mengikuti film tersebut dipenuhi pembahasan mengenai ketimpangan sosial, isu agraria, proyek pembangunan, hingga kritik terhadap arah kebijakan pemerintah. Sejumlah pembicara dari kalangan aktivis dan akademisi bahkan menilai film tersebut menjadi media konsolidasi opini publik yang mampu memperkuat solidaritas antar kelompok.
Pengamat komunikasi sosial menilai penyebaran film semacam ini tidak dapat dilepaskan dari perubahan pola gerakan sosial di era digital. Jika dahulu kritik hanya disampaikan melalui demonstrasi atau tulisan panjang, kini narasi dapat disebarkan secara masif melalui visual, potongan video pendek, hingga media sosial yang mampu menjangkau publik lebih luas dalam waktu singkat.
“Film memiliki kekuatan emosional yang besar. Ketika dipadukan dengan media sosial dan forum diskusi, dampaknya bisa membentuk persepsi publik secara cepat,” ujar seorang pengamat media sosial di Jakarta.
Di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa penyebaran narasi yang terlalu provokatif berpotensi memperuncing polarisasi di ruang publik. Sejumlah pihak mengingatkan bahwa kritik sosial tetap perlu disampaikan secara konstruktif dan tidak mendorong kebencian maupun delegitimasi terhadap institusi negara.
Beberapa pengamat juga menilai fenomena ini menjadi bukti bahwa generasi muda saat ini lebih tertarik pada pendekatan visual dan narasi emosional dibandingkan penyampaian formal. Karena itu, ruang digital kini menjadi arena utama perebutan opini antara kelompok pro pemerintah, kelompok kritis, maupun berbagai organisasi masyarakat sipil.
Meski menuai pro dan kontra, penyebaran film Pesta Babi menunjukkan bahwa medium audio visual telah berkembang menjadi alat komunikasi politik dan sosial yang sangat kuat. Di tengah derasnya arus informasi digital, film tidak lagi sekadar hiburan, melainkan juga menjadi instrumen pembentuk persepsi, identitas kelompok, hingga arah opini publik di masyarakat.

