Di tengah derasnya arus informasi digital, Indonesia kembali menghadapi tantangan serius berupa masifnya propaganda opini yang berpotensi memecah persatuan bangsa. Salah satu yang menjadi sorotan adalah beredarnya materi promosi film dokumenter berjudul “Pesta Babi” yang menampilkan pemutaran di ratusan layar lintas kota di Indonesia hingga sejumlah negara luar negeri.
Dalam materi visual yang beredar di media sosial, disebutkan bahwa pemutaran film tersebut dilakukan di lebih dari 500 layar dan tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Tidak hanya itu, pemutaran juga disebut berlangsung di sejumlah kota luar negeri seperti Melbourne, Auckland, New York, hingga Berlin.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan publik: apakah ini sekadar karya dokumenter biasa, atau bagian dari pembentukan opini global terhadap Indonesia?
Perang Narasi di Era Digital
Dalam era modern, ancaman terhadap sebuah negara tidak selalu berbentuk invasi fisik atau konflik bersenjata. Perang narasi, propaganda digital, dan operasi pembentukan opini publik kini menjadi instrumen baru yang dinilai jauh lebih efektif untuk melemahkan kohesi sosial dan rasa kebangsaan.
Melalui medium film, media sosial, dan jaringan distribusi internasional, sebuah isu lokal dapat dengan cepat dibingkai menjadi narasi global. Ketika informasi dikemas secara emosional, dramatis, dan terus diulang, maka persepsi publik perlahan dapat diarahkan untuk membangun ketidakpercayaan terhadap institusi negara, aparat, maupun simbol nasionalisme.
Sejumlah pengamat komunikasi politik menilai bahwa pola semacam ini kerap digunakan dalam strategi psychological operation modern, yakni membentuk persepsi masyarakat agar melihat negaranya sendiri sebagai sumber masalah, sementara aktor luar tampil sebagai pihak yang lebih kredibel.
Fragmentasi Sosial Jadi Sasaran Utama
Indonesia sebagai negara besar dengan keberagaman suku, agama, budaya, dan bahasa memiliki kekuatan besar sekaligus kerentanan strategis. Ketika narasi negatif terus dipompa tanpa keseimbangan informasi, maka yang paling rentan terdampak adalah generasi muda yang hidup di ruang digital tanpa filter kuat terhadap propaganda.
Situasi ini dapat memunculkan:
menurunnya kepercayaan terhadap institusi nasional,
meningkatnya polarisasi sosial,
tumbuhnya sikap sinisme terhadap simbol negara,
hingga berkembangnya gerakan sosial berbasis kemarahan kolektif.
Dalam konteks tersebut, isu yang awalnya bersifat sektoral dapat berkembang menjadi sentimen anti-negara apabila terus dimobilisasi secara emosional dan sistematis.
Nasionalisme Tidak Boleh Kalah oleh Propaganda
Di tengah derasnya produksi konten negatif, penguatan nasionalisme menjadi elemen penting untuk menjaga keutuhan NKRI. Nasionalisme bukan berarti menolak kritik, melainkan memastikan bahwa kritik tetap berada dalam koridor membangun, tidak dimanfaatkan pihak tertentu untuk menciptakan perpecahan.
Bangsa Indonesia memiliki sejarah panjang menghadapi berbagai bentuk infiltrasi ideologi dan propaganda. Dari masa kolonial hingga era perang informasi saat ini, kekuatan utama Indonesia tetap terletak pada persatuan rakyat dan komitmen menjaga Pancasila sebagai fondasi bersama.
Karena itu, masyarakat perlu semakin cerdas memilah informasi, memahami konteks sebuah narasi, serta tidak mudah terprovokasi oleh konten yang sengaja dibangun untuk menciptakan kemarahan massal atau delegitimasi terhadap negara.
Ruang Digital Harus Diisi Narasi Persatuan
Pemerhati sosial dan media menilai bahwa ruang digital Indonesia saat ini membutuhkan lebih banyak konten yang memperkuat optimisme, persatuan, dan identitas kebangsaan. Jika ruang publik terus didominasi narasi pesimisme dan konflik, maka perlahan akan tercipta krisis kepercayaan yang berdampak terhadap stabilitas sosial nasional.
Momentum ini menjadi pengingat bahwa menjaga NKRI bukan hanya tugas aparat atau pemerintah, tetapi juga tanggung jawab seluruh elemen bangsa, termasuk masyarakat sipil, akademisi, media, dan generasi muda.
Di tengah derasnya propaganda global dan perang opini digital, semangat persatuan harus tetap menjadi benteng utama bangsa Indonesia. Karena ketika nasionalisme melemah, maka ruang perpecahan akan semakin mudah tumbuh.
NKRI bukan sekadar wilayah geografis, melainkan rumah bersama yang harus dijaga oleh seluruh rakyat Indonesia.

